Drone Elang Hitam Rudal Made in Indonesia

Drone elang hitam ciptaan PTDI akan segera mengangkasa akhir tahun 2021. Pesawat udara nirawak atau drone ini masuk dalam jenis medium altutide dengan long endurance. Pada drone ini kamu akan menemukan peluru kendali atau Rudan yang juga ciptaan Indonesia.

Trendingkan drone sejatinya merupakan sebuah pesawat tanpa pilot yang sejak beberapa tahun yang lalu berperan sebagai alat tempur untuk berbagai negara. Cara mengendalikan pesawat tanpa pilot ini adalah dengan menggunakan remote control maupun komputer yang canggih secara jarak jauh. Dengan kemampuan seperti ini mereka juga berkesempatan untuk menyematkan peluru di daerah musuh.

Mengenal Drone Made in Indonesia

PTDI menciptakan sebuah pesawat tanpa pilot atau drone dengan nama Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) Elang Hitam atau Drone Elang Hitam. Rancangan drone ini sangat khusus karena bisa menjalankan operasi dan terbang hingga 24 jam. PTDI bersama PT Len Industri, LAPAN, Dislitbang AU, Balitbang Kemhan RI, BPPT, Pothan Kemhan RI dan juga ITB bekerja sama untuk mengembangkan drone ini.

Nantinya Drone Elang Hitam ini akan menjadi sebuah teknologi yang berkembang untuk pertahanan nasional sebagai Alutsista atau Alat Utama Sistem Senjata bagi tim TNI. Dan kedepannya mereka juga mempunyai misi untuk menciptakan sebuah drone MALE kombatan yang sesuai dengan kebutuhan operasi dan spesifikasi teknis senjata TNI AU.

PTDI juga Ciptakan Rudal untuk 2024

Selain Drone Elang Hitam untuk pertahanan nasional PTDI juga menciptakan program Rudal Nasional bersama PT Len Industri, Pindad dan juga Mulatama. Harapannya dengan pembangan Rudal dari Surface to Surface bisa membuat Indonesia mempunyai kemandirian dalam industri pertahanan dalam negeri seniri. Nah PTDI menyanggupi sertifikasi Rudal sebagai kebutuhan Alutsista TNI bisa terwujud di tahun 2024.

Drone Elang Hitam Bisa Lawan Drone China

Melihat spesifikasi kecanggihan Drone Elang Hitam, Indonesia mempunyai harapan besar bisa segera menggunakan senjata ini untuk menghadapi ketegangan di laut Natuna melawan China. Drone ini telah berkembang sejak 2015 di bawah BPPT dan akhirnya diproduksi bersama dengan PTDI.

Drone ini mempunyai dua jenis yaitu drone kombatan EH-4 dan juga EH-5. Dimana jenis ini sendiri menurut BPPT sebanding dengan Drone CH-4 Rainbow yang diproduksi oleh China. Dan segera bisa kita terbangkan dan terproduksi secara massal di akhir tahun 2021.

Indonesia sendiri jika Drone Elang Hitam ini jadi dan bisa mengangkasa maka total ada 5 PUNA MALE yang merupakan karya anak bangsa dan siap berjuang untuk melawan negara musuh di tahun 2022. Yang mana ke 5 drone ini mempunyai kemampuan yang sebanding dengan drone buatan negara lain termasuk China.

Kelebihan Drone Elang Hitam

Pesawat tanpa pilot buatan Indonesia ini mempunyai desain yang sangat canggih dalam mengawasi keamanan Indonesia dari udara. Tentunya dengan desain yang canggih, drone punya Indonesia ini mempunyai banyak kelebihan, diantaranya:

  • Bisa take off dan landing pada landasan yang pendek yaitu kisaran 700 meter.
  • Drone elang hitam punya Indonesia bisa terbang hingga ketinggian 20.000 feet.
  • Mampu melaju dengan kecepatan maksimal 235 km/jam.
  • Drone ini mampu terbang hingga 30 jam di udara.
  • Drone ini juga bisa berfungsi sebagai CCTV di langit Indonesia sehingga menjaga negara ini tetap berdaulat dengan tingkat keamanan yang tinggi di laut maupun di udara dan darat.
  • PUNA MALE kombatan Elang Hitam berkembang menjadi drone yang multi fungsi. Dimana drone ini bisa kita gunakan untuk misi intel (spionase), mengawasi, melakukan akuisisi target dan juga mengenali target. Karena pada drone ini terdapat fungsi Intelligence, lalu Surveillance, Target Acquisition & Reconnaissance, serta sistem persenjataan (ISTAR).

Baca juga :  7 Pilihan Murah Liburan Ke Luar Negeri tanpa visa

Kelebihan-kelebihan di atas akan terus berkembang hingga nantinya Indonesia bisa punya anti-drone yang bisa menghancurkan drone milik musuh. Selain itu BPPT juga berpendapat drone yang sedang mereka kembangkan akan mempunyai laser. Namun saat ini semua itu masih dalam tahap pengembangan, kliring atau penguasaan teknologi sehingga nantinya bisa kita buat sertifikasi pembuatan alat ini sebelum terproduksi secara massal.

Tinggalkan komentar